?

Log in

Vian's Corner
Hate (Yunjaechun) pg13 
30th-Aug-2009 09:53 pm
fruk
Title              : Hate
Disclaimer  : Mereka bukan punya saya… XP
Rate             : PG+13
Genre          : Angst
Pairing        : ChunJae. Little bit of YunJae.
Warning      : YAOI. MxM relationship.



***



Kau duduk sendiri di balkon apartemen, menghisap rokokmu dalam-dalam. Sungguh dalam hingga dadamu sesak. Sesak oleh asap rokok yang mengepul di paru-parumu, dan sesak oleh sebuah perasaan yang menyelubungi hatimu.

Kau menghembuskan asap rokok tersebut keras-keras. Dengan satu gerakan kecil, kau mematikan rokokmu dan mengambil satu bungkus rokok baru. Mengambil sebuah rokok lagi, dan menghisapnya dalam-dalam.

Matamu menatap kosong ke depan, tak peduli dengan cahaya-cahaya yang bertebaran di tiap sudut, tak mendengar suara bising kendaraan yang terjebak kemacetan, dan tak mengindahkan sang bulan yang dengan anggunnya menggantung di atas langit. Seakan tersenyum pada kota Seoul.

“Yoochun”

Kau menoleh saat mendengar namamu dipanggil. Rupanya dia.

“Bukankah seharusnya kau tidur? Ini sudah jam 1 malam.” Kau bertanya kepadanya.

“Bukankah kau juga?” Ia berjalan menghampirimu, dengan kaos berwarna putih yang kebesaran dan celana selutut berwarna khaki.

“Seoul tidak pernah tertidur, kau tahu itu.” Kau tersenyum padanya. Ia balas tersenyum.

“Mau kutemani?” Ia melemparkan sekaleng soda padamu dan duduk di kursi sebelahmu. Kau menatapnya sekilas, ada perasaan aneh yang menyelubungi hatimu saat ia berada di sampingmu.

“Boleh saja,” Kau membuka tutup kaleng soda itu. Dan meneguk isinya perlahan.

Sunyi duduk dalam jeda. Kau dan dia sama sekali tak mengeluarkan suara, hanya membiarkan angin malam yang berhembus pelan menjadi alunan pengiring keheningan. Dalam hati, kau bersyukur momen ini tiba, karena kesunyian ini memang menenangkan, tapi di sisi lain—kau tak bisa berbohong, menyakitkan.

“Yunho mengkhawatirkanmu.” Ia memecah keheningan yang hinggap di antara kalian. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya begitu mantap. Tanpa keraguan. Betapa kau membenci bibir itu. Bibir merah yang menggelitik rasa penasaranmu ‘Bagaimana rasanya?’.

“Begitukah?” Kau memainkan kaleng soda yang masih terisi setengahnya di tanganmu.

“Kau yakin kau tak apa?” Kau menoleh. Matanya menatapmu dalam-dalam. Kau bahkan bisa melihat pantulan dirimu sendiri di mata hitam keabuan miliknya. Dan kau berpikir lagi, betapa kau membenci mata itu, mata yang selalu memancarkan kehangatan, yang selalu berbinar oleh kebahagiaan. Membuatmu menginginkan bahwa suatu saat nanti, mata itu hanya menatapmu. Hanya padamu.

“Aku baik-baik saja, kondisiku sehat.” Kau kembali menatap ke depan, kau berusaha agar suaramu tak terdengar lirih. Sehat. Ya, kau sehat. Sehat secara fisik. Dalam kondisi fisikmu yang sehat, kau tak bisa mengelak, bahwa batinmu berteriak kesakitan, ada luka yang menganga lebar, yang tak bisa kau sembuhkan hanya dengan dirimu sendiri. Karena walaupun kau berusaha untuk mengobati luka itu sendirian, luka itu akan tetap berbekas.

Ia terdiam, suasana hening kembali menyelimuti balkon apartemen kalian. Lalu tiba-tiba kau mendengar suara—sebuah gumaman, yang rupa-rupanya datang dari orang di sebelahmu.

Ia bernyanyi, dan kau tahu betul lagu yang sedang dinyanyikannya, What A Wonderful World. Lagu kenangan kalian berdua.

I see skies of blue, and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself, what a wonderful world


Ia terkekeh pelan ketika menyelesaikan lagunya. Lalu menatapmu sambil tersenyum kecil

“Kau tahu, Chun. Kalau kau punya masalah, ceritakan saja padaku…” Ia berkata halus.

“Aku tak punya masalah apapun, Jae.” Kau menatapnya. Berusaha meyakinkan.

Ia menghela nafas. “Aku akan menemanimu.” Ucapnya, lalu menatap sang dewi malam. “Malam yang indah,” Ia bergumam.

Kau tak menjawab.

Lalu keadaan kembali hening. Kau meneguk soda-mu dalam diam. Baik kau dan dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Kalian menikmati suasana hening. Menikmati udara malam yang dingin.

Dan waktu pun berlalu, kau melirik jam tangan yang melilit di pergelangan tanganmu. Pukul 3 malam. Lalu kau menatap ke sebelahmu. Rupanya ia tertidur. Wajahnya begitu tenang.

Kau menatapnya lama, jemarimu menelusuri lekuk wajahnya perlahan tanpa diperintah. Kulitnya terlihat begitu pucat di bawah terang rembulan. Betapa ia merupakan hal terindah yang diciptakan Tuhan bagimu. Kau mengelus helai demi helai rambut hitamnya.

Tuhan. Betapa kau begitu terpesona oleh orang yang paling kau benci di dunia ini.

Benci.

Ya, benci. Kau amat membencinya. Tapi juga mencintainya.

Kau menyukai suara tawanya, dan kau jatuh cinta pada suaranya setiap kali ia bernyanyi. Setiap kali ia memanggil namamu. Tapi di sudut pandangmu yang lain, kau juga membenci suaranya. Setiap kali ia memanggil nama ‘Yunho’, amarah memenuhi setiap sudut di hatimu. Kau membenci isakkannya setiap kali ia bertengkar dengan Yunho. Dan kau paling membenci suara desahannya yang terdengar dari kamar setiap kali ia bercinta dengan sang leader.

Kau menyukai matanya. Mata yang selalu berbinar cerah. Mata yang membuatmu jatuh hati padanya. Mata yang selalu memandangmu penuh harap. Dan kau juga membenci mata itu, mata yang selalu memandang Jung Yunho penuh cinta. Mata yang terpejam saat Yunho mencium kedua belah bibirnya.

Kau menyukai setiap inci dari tubuhnya sekaligus membencinya. Karena kau tahu. Dia bukan milikmu. Dia milik orang lain. Milik Yunho.

Kau pergi ke kamarmu, dan kembali ke balkon dengan membawa sehelai selimut tipis berwarna putih. Kau menyelimutinya. Lalu mengecup keningnya perlahan.

Kau memang membenci Kim Jaejoong. Kau membencinya.

Tapi kau juga mencintainya. Dan tak bisa hidup tanpanya.

Dan kau juga membenci Jung Yunho. Karena telah merebut Jaejoong darimu.

Tapi lebih dari semua itu—Kau membenci dirimu sendiri. Karena tak pernah mengakui bahwa kau jatuh cinta pada Kim Jaejoong.

Karena membiarkannya direbut oleh Yunho.

Karena tak ada lagi kesempatan yang tersisa.

Karena Park Yoochun adalah seorang pecundang cinta. Kau menghisap rokok terakhirmu perlahan. Tersenyum pahit.


~fin

***

Aiisshhh… betapa teganya saya menyiksa Yoochun seperti ini… *jedukin kepala ke tembok*
Lagi asyik bikin Angst nih… hehe…
Saya tau fic ini masih banyak kekurangan, ini pertama kalinya saya bikin fic ChunJae. Sekaligus pertama kalinya sya bikin Angst… semoga kalian dapat memaklumi… J.


This page was loaded Feb 26th 2017, 1:04 am GMT.